Tubuh Saka terbanting ke dasar jurang, tapi tak remuk seperti seharusnya. Batu-batu tajam yang seharusnya menembus tubuhnya malah retak saat disentuh kulitnya. Nafasnya terengah, tapi tak lagi kesakitan. Dadanya panas—seperti bara yang menyala di dalam.
Kabut di sekitar jurang berubah. Lebih tebal, berputar pelan. Seolah menyambut sesuatu yang telah lama ditunggu. Udara menjadi dingin… bukan dingin biasa, melainkan dingin yang membuat waktu seakan berhenti.
Saka mengangkat tangannya—dan melihatnya gemetar. Tapi bukan karena takut.
Kulitnya, yang sebelumnya penuh luka dan debu, kini dipenuhi urat-urat hitam seperti tinta yang menyebar perlahan dari dadanya ke seluruh tubuh. Suatu kekuatan asing mengalir di balik dagingnya. Membisik, mengancam, dan menjanjikan sesuatu yang lebih dari sekadar balas dendam.
“Apa… yang terjadi padaku?” bisiknya.
"Kau bangkit dari kematian. Tapi bukan sebagai dirimu yang lama. Aku... telah menyatu."
Suara itu datang lagi. Lebih jelas. Lebih nyata.
Di balik bayang kabut, sesosok makhluk muncul—tinggi, tak berbentuk pasti, seperti disusun dari kegelapan itu sendiri. Dua mata merah menyala dari ketiadaan. Dan suara itu… langsung menembus pikiran Saka.
"Aku adalah Bayang Ananta. Pecahan terakhir dari kekuatan yang dahulu disegel oleh para penjaga langit. Kini... kau menjadi wadahku. Satu-satunya yang bisa menampung luka dunia ini."
“Aku bukan siapa-siapa. Aku cuma—”
"—anak kutukan? Justru karena itulah kau dipilih. Karena dunia telah membuangmu. Karena hatimu tak lagi takut kehilangan."
“Kau mau aku… jadi apa?”
"Penutup dan pembuka. Pemusnah dan penebus. Tapi untuk sekarang… kau hanya perlu bertahan."
Seketika, tubuh Saka tersentak keras. Tanah bergetar. Urat-urat hitam di tubuhnya menyebar semakin luas. Matanya memutih, dan jeritan yang keluar dari mulutnya bukan lagi milik manusia.
Langit di atas jurang terbelah sekejap—sebuah celah tipis seperti retakan kaca muncul, lalu menghilang. Tak seorang pun di atas sana melihatnya… kecuali satu sosok asing berjubah hitam yang mengamati dari balik pepohonan jauh.
“Tanda itu…” gumamnya. “Bayang itu… kembali.”
Malam tiba lebih cepat di Desa Kalanglintang.
Gunta, Karma, dan Windu kembali tanpa luka, dengan senyum puas. Mereka berpura-pura tidak tahu apa-apa saat ditanya warga. Mereka bilang Saka pergi ke kota. Kabur.
“Anak itu nggak tahan lagi dikutuk. Mungkin dia bunuh diri,” ucap Gunta dingin pada kepala desa.
Kepala desa hanya mengangguk. “Semoga dia tidak kembali.”
Namun saat malam mencapai puncaknya, suara aneh terdengar dari arah hutan.
Bukan lolongan. Bukan tangisan. Tapi raungan—campuran antara amarah dan kesakitan, yang menggema jauh… dan membuat anjing-anjing desa menggonggong tanpa henti.
Dan di tepi hutan, mata merah menyala dari balik kabut.