Bayang Ananta : Chapter 1 (Bagian 1)

Kabut pekat turun dari lereng Gunung Rahwana, menyelimuti Desa Kalanglintang yang terpencil dan terlupakan dari peta dunia. Udara pagi menggigit, membawa aroma lembab tanah yang basah dan kayu bakar yang nyaris padam. Di balik rumah-rumah reyot beratap ijuk, suara lonceng tua kuil bergema satu kali, seperti mengingatkan penduduk akan kutukan yang mereka anggap nyata: seorang anak bernama Saka.

Di bawah pohon beringin besar yang bengkok ke arah matahari pagi, tubuh Saka meringkuk, berbalut kain lusuh dan penuh tambalan. Di sekelilingnya, anak-anak desa bermain, tapi tak satu pun berani mendekat. Ibu-ibu menarik anak mereka menjauh, seolah hanya menyebut namanya saja bisa mengundang petaka.

“Jangan mendekat!” bisik seorang ibu muda pada anaknya yang penasaran. “Itu anak kutukan. Ibumu bisa jatuh sakit kalau kamu bicara dengannya.”

“Tapi dia cuma tidur, Bu…”
“Jangan bantah!”

Saka mendengar semua itu. Ia tak lagi merasa sakit karena ucapan mereka—perasaan itu sudah mati sejak lama. Tapi di dalam hatinya, selalu ada bara kecil yang belum padam: rasa ingin tahu, mengapa dirinya dibenci… dan siapa dirinya sebenarnya.


Di malam hari, saat angin menampar dinding bambu gubuknya, Saka duduk memeluk lutut. Api kecil dari tungku hampir padam. Hanya sepotong ubi sisa pasar yang ia curi diam-diam untuk dimakan.

“Aku... nggak minta dilahirkan di sini,” gumamnya lirih.
“Kalau memang dunia ini menolak aku... kenapa aku masih hidup?”

Langit malam itu gelap pekat, tak bertabur bintang. Seperti dunia ikut berpaling dari dirinya. Tapi di kejauhan, di arah Gunung Rahwana, ada cahaya merah yang menyala sebentar… lalu lenyap. Tak ada yang melihatnya. Kecuali Saka.


Keesokan harinya, tiga pemuda desa datang padanya. Bukan untuk mengolok. Tapi untuk "mengajak berburu."

“Saka,” kata Gunta, pemuda tinggi dengan wajah dingin. “Kami butuh orang buat bantuin ke atas hutan. Gampang kok. Kamu cuma jagain tali panjat kami.”

Saka curiga, tapi tak punya pilihan. “Oke... asal aku dapat makan malam ini.”

Gunta tertawa pendek. “Tentu. Bahkan mungkin kamu bakal dapat lebih dari itu.”

Mereka berjalan menuju kaki Gunung Rahwana, hutan yang katanya dihuni roh-roh kuno dan binatang buas yang tak bisa mati. Saka diam saja. Tapi hatinya berat. Langkah mereka menapaki daun-daun gugur, seolah mendekati takdir yang sudah dituliskan dari awal.