Bagian 1: Pertemuan di Kafe "Kacau"
Ava melangkah masuk ke Kafe Kopi Konyol dengan senyum selebar trotoar. Rambut cokelatnya yang sedikit berantakan diikat asal dengan karet gelang, dan kaus bertuliskan “Hidup adalah Lelucon, Tertawalah!” menempel erat di tubuhnya. Di tangannya, ia membawa buku catatan penuh coretan lelucon yang ia tulis semalaman. Impiannya menjadi komedian terkenal mungkin masih jauh, tapi Ava percaya setiap langkah kecil—termasuk open mic di kafe ini malam nanti—adalah batu loncatan menuju panggung besar.
Kafe itu ramai, penuh dengan aroma kopi dan suara gelas yang berdenting. Ava memesan cappuccino dengan busa ekstra (karena, menurutnya, busa adalah “jiwa kopi”) dan mencari tempat duduk. Sayangnya, kafe penuh sesak. Satu-satunya meja kosong ternyata sudah “dipesan” oleh seorang pria yang duduk di sudut, menatap laptopnya dengan ekspresi serius seolah sedang memecahkan misteri alam semesta.
“Permen apa yang besar?” tanya Ava tiba-tiba, berdiri di depan pria itu dengan senyum lelet.
Pria itu mendongak, alisnya terangkat. Matanya cokelat tua, dan rambutnya yang sedikit acak-acakan memberi kesan bahwa ia baru saja bertarung dengan angin. Ia mengenakan kemeja biru tua yang digulung hingga siku, tampak seperti seseorang yang terlalu sibuk untuk peduli dengan penampilan tapi tetap terlihat menarik. “Apa?” tanyanya, bingung.
“Permen apa yang besar?” ulang Ava, kali ini dengan nada dramatis seperti pembawa acara kuis.
Pria itu memandangnya, jelas tidak siap untuk interogasi lelucon di pagi hari. “Aku… tidak tahu. Candy Borobudur?”
Ava tertawa terbahak-bahak, hampir menumpahkan cappuccinonya. “Candy Borobudur! Itu bagus! Tapi jawabannya Candy Borobudur dan Candy Borobudur!” Ia menunjuk dua permen imajiner di udara, seolah itu punchline terbaik abad ini.
Pria itu akhirnya tersenyum kecil, meski masih tampak bingung. “Oke, kamu menang. Tapi apa ini? Audisi komedi pagi-pagi?”
“Lebih dari itu!” kata Ava, menjatuhkan diri ke kursi di depan pria itu tanpa diminta. “Ini adalah misi hidupku untuk membuat dunia tertawa. Nama aku Ava. Kamu?”
“Rey,” jawabnya singkat, menutup laptopnya dengan gerakan cepat, seolah tak ingin Ava melihat apa yang ada di layar. “Dan aku sedang… bekerja.”
“Bekerja di kafe yang bernama Kopi Konyol? Serius?” Ava memandangnya dengan mata menyipit, pura-pura curiga. “Kamu pasti penutup rahasia. Atau penulis novel detektif. Atau… penemu mesin waktu!”
Rey terkekeh, kali ini lebih tulus. “Penemu mesin waktu? Kamu kreatif. Tapi sayangnya, aku cuma pengusaha biasa.”
“Pengusaha biasa yang ketawa sama lelucon permenku. Itu sudah poin besar!” Ava membuka buku catatannya dan mulai mencoret-coret. “Catatan: Candy Borobudur adalah emas. Terima kasih, Rey.”
Rey memandangnya dengan campuran kagum dan bingung. “Kamu beneran menulis lelucon di buku itu? Setiap hari?”
“Setiap menit!” Ava mengangguk bangga. “Hidup tanpa tawa itu seperti kopi tanpa busa. Hambar.”
Saat itulah kekacauan dimulai. Seorang pelayan yang tampak panik berlari melintasi kafe, membawa nampan penuh gelas kopi. Entah bagaimana, ia tersandung tepat di dekat meja Ava dan Rey. Nampan itu terbang, dan dalam gerakan lambat yang dramatis, setidaknya tiga cangkir kopi melayang menuju Rey.
“Oh tidak!” teriak Ava. Dengan refleks yang bahkan ia sendiri tidak tahu dimilikinya, ia menarik Rey ke samping. Kopi-kopi itu mendarat di lantai dengan suara splat yang memilukan, dan kafe menjadi sunyi sejenak sebelum semua orang mulai berbisik dan tertawa.
Rey, yang kini setengah berjongkok di samping Ava, memandangnya dengan ekspresi antara syok dan terhibur. “Kamu… baru saja menyelamatkanku dari mandi kopi.”
“Dan kau berutang nyawa padaku!” Ava berdiri, menepuk tangannya seperti pahlawan super. “Tapi tenang, aku terima pembayaran berupa tawa atau… satu cangkir kopi baru.”
Pelayan yang malang itu meminta maaf berulang-ulang, dan manajer kafe buru-buru menawarkan kopi gratis untuk Ava dan Rey sebagai ganti rugi. Mereka kembali ke meja, kali ini dengan dua cangkir cappuccino baru—dengan busa ekstra, tentu saja.
“Jadi,” kata Rey, menyesap kopinya, “apa ceritamu, Ava? Selain menyelamatkan orang dari bencana kopi dan menulis lelucon?”
Ava menceritakan mimpinya menjadi komedian, tentang open mic yang ia ikuti meski kadang hanya ditonton lima orang, dan tentang bagaimana ia percaya tawa bisa menyembuhkan apa saja. Rey mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum atau mengangguk. Tapi ada sesuatu di matanya—sebuah kilasan rahasia, seperti ia menyimpan cerita yang tak ingin dibagikan.
“Dan kamu?” tanya Ava, menunjuk Rey dengan sendoknya. “Pengusaha biasa yang suka nongkrong di kafe konyol? Apa rahasiamu?”
Rey terdiam sejenak, jari-jarinya mengetuk cangkir kopi. “Rahasia? Aku… tidak punya rahasia. Cuma orang biasa yang suka kopi.”
“Pembohong!” Ava menunjuknya dengan dramatis. “Matamu bilang kamu menyimpan sesuatu. Apa itu? Identitas superhero? Hutang miliaran? Kucing yang bisa nyanyi?”
Rey tertawa keras, kali ini tanpa bisa menahannya. “Kucing yang bisa nyanyi? Ava, kamu gila.”
“Gila adalah bahan bakar komedi!” Ava mengedipkan mata. “Ayo, ceritain satu rahasia kecil. Aku kan sudah cerita mimpiku.”
Rey menghela napas, lalu tersenyum miring. “Oke, satu rahasia kecil. Aku… takut ketinggian. Jadi, jangan ajak aku naik Ferris wheel.”
Ava memandangnya dengan pura-pura kecewa. “Cuma itu? Aku harap sesuatu yang lebih… epik. Tapi oke, aku catat: Rey takut ketinggian. Besok aku bawa balon udara!”
Mereka menghabiskan satu jam berikutnya mengobrol, tertawa, dan saling melempar lelucon konyol. Ava merasa ada sesuatu yang klik dengan Rey—seperti ia sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Rey, di sisi lain, tampak semakin rileks, meski sesekali ia melirik laptopnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Saat Ava bersiap pergi untuk latihan open mic, Rey tiba-tiba berkata, “Ava, kamu… beda. Aku suka orang yang bisa bikin orang lain tersenyum.”
Ava tersenyum lebar. “Dan aku suka orang yang ketawa sama leluconku. Kita temen sekarang, oke?”
Rey mengangguk, tapi ada sesuatu di senyumnya—sebuah bayangan kecil, seolah ia tahu pertemanan ini akan membawa mereka ke tempat yang tak terduga. “Temen,” ulangnya pelan.
Saat Ava melangkah keluar kafe, ia tidak tahu bahwa pertemuan ini adalah awal dari sebuah cerita yang penuh tawa, cinta, dan rahasia yang akan mengubah hidup mereka semua. Dan di sudut kafe, seorang pelayan yang tampak biasa saja memandang mereka pergi, tersenyum aneh, dan mencatat sesuatu di buku kecilnya—buku yang sama sekali tidak berisi pesanan kopi.