Hutan di kaki Gunung Rahwana tidak seperti hutan biasa. Pohon-pohon di sini tumbuh terlalu tinggi, terlalu rapat, dan terlalu… diam. Tak ada suara burung, tak ada dengung serangga. Hanya desir angin yang menyelinap di antara daun-daun, seperti bisikan yang ingin kau lupakan.
Saka mengikuti Gunta dan dua pemuda lainnya—Karma dan Windu. Mereka tak banyak bicara, hanya sesekali menoleh untuk memastikan Saka masih mengikuti.
“Kita mau naik sampai Pos Batu,” kata Karma. “Katanya ada jejak rusa putih di sana. Dagingnya bisa dijual mahal.”
“Rusa putih?” gumam Saka. “Bukannya itu cuma cerita orang tua?”
Windu menyeringai. “Kau pikir kenapa cuma kamu yang kami ajak?”
“Apa maksudmu?”
Tak ada jawaban. Mereka terus berjalan.
Langkah demi langkah, semak-semak makin rimbun. Tanah makin lembek, licin. Akar pohon mencuat seperti tangan yang hendak meraih. Dan perlahan… kabut mulai turun, lebih tebal dari sebelumnya.
“Kita sudah sampai,” kata Gunta tiba-tiba.
Mereka berhenti di tepi tebing curam. Di bawah sana, jurang menganga seperti mulut monster purba. Tak ada tali. Tak ada pos. Hanya batu-batu tajam dan bau kematian yang menggantung.
“Apa—” Saka hendak bertanya, tapi Karma mendorongnya keras.
Tubuh Saka terjerembab ke tanah, nyaris tergelincir ke jurang. Detik berikutnya, Gunta menendang kayu penyangga di sampingnya, membuat tepi tebing longsor perlahan.
“Kalian... mau apa!?” teriak Saka panik, berusaha bangkit.
Windu tertawa. “Menyelamatkan desa. Kau tahu sendiri, Saka. Setiap kali kau ada, selalu ada yang mati. Kebakaran, gagal panen, anak-anak sakit.”
“Aku... bukan penyebab itu!”
Gunta maju, matanya penuh kebencian. “Tapi kau satu-satunya yang selalu ada di tiap bencana.”
“Kau bawa sial, Saka. Kau bukan manusia biasa. Kau kutukan.”
“Tidak… tidak! Aku cuma—”
“—sampah,” potong Karma.
Dan sebelum Saka sempat membalas, Gunta mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Saka jatuh.
Teriaknya tertelan kabut.
Tubuhnya menghantam dinding tebing, berputar tanpa kendali, hingga akhirnya—
Gelap.
Waktu berlalu… entah berapa lama. Dalam kegelapan, Saka merasa melayang. Tapi bukan mati. Tubuhnya remuk, tapi jiwanya… masih ada.
Lalu, ia mendengar suara. Bukan dari luar. Tapi dari dalam.
"Akhirnya… Kau datang…"
Suara itu dalam. Tua. Bergema di pikirannya.
"Pecahan terakhir dari diriku yang hilang… anak yang terbuang… tubuh yang dicari oleh dunia terkutuk ini…"
“Siapa kau…?” tanya Saka dalam benaknya.
"Aku adalah bayang-bayang dunia sebelum dunia ini ada. Aku adalah keabadian yang disegel. Aku adalah… Bayang Ananta."
Tiba-tiba, tubuh Saka tersentak. Matanya terbuka. Tapi yang ia lihat bukan dunia biasa. Langit menjadi darah. Tanah berubah menjadi kaca retak. Dan di hadapannya, berdiri sosok hitam pekat, dengan mata merah menyala, seperti lubang ke dalam kehampaan.
"Kau telah dibangkitkan, Saka. Tapi dengan harga."
“Harga… apa?”
"Tak ada jalan kembali. Dunia telah mengkhianatimu. Kini, aku adalah kau, dan kau adalah aku. Kita adalah satu."
"Bangkitlah. Dan bersiaplah… dunia akan merasakan kebenaran dari kutukan yang mereka takuti."